5 Alasan Kenapa Sekiro Gak Layak Menang Game of the Year
Akhir tahun adalah ketika bagi kita semua buat merefleksikan pencapaian & kegagalan kita pada tahun tersebut dan di global hiburan, ini waktunya buat memasuki Musim Penghargaan, geng!
Nggak mau kalah dengan Oscar dan Grammy berdasarkan global film dan musik, kini video game punya The Game Awards yg telah berjalan berdasarkan tahun 2014.
Dan buat penghargaan paling bergengsi Game of the Year, pilihannya jatuh ke game Sekiro: Shadows Die Twice menurut developer asal Jepang FromSoftware.
Di game ini, engkau berperan sebagai seorang ninja bernama Wolf yang ditugaskan buat melindungi Kuro, seorang bocah yang mempunyai kekuatan misterius.
DAFTAR ISI
- Alasan Kenapa Sekiro Nggak Layak Menang Game of the Year
- Kustomisasi Karakter yg Terbatas
- Tidak Adanya Fitur Multiplayer
- Gameplay yang Dikhususkan Untuk Masokis
- Kurangnya Inovasi berdasarkan Seri Souls & Bloodborne
- Kurangnya Variasi Gameplay dan Replay Value
Alasan Kenapa Sekiro Nggak Layak Menang Game of the Year
Eits, tunggu dulu, Jaka bukannya julid akan tetapi memang ada beberapa alasan kenapa Sekiro: Shadows Die Twice nggak layak mendapat penghargaan ini berdasarkan Jaka.
Hal ini sama kasusnya menggunakan global film pada mana banyak banget film yang sebenarnya nggak pantes menang Piala Oscar untuk Film Terbaik.
Dibandingkan dengan game lain yang dinominasikan buat penghargaan yg sama, game ini memiliki beberapa kekurangan yg membuatnya kurang layak, geng!
Nah, di sini Jaka akan membahas lima alasan kenapa Sekiro nggak layak menang Game of the Year! Mohon maaf sebelumnya untuk fans berat game ini ya.
1. Kustomisasi Karakter yg Terbatas
Berbeda menggunakan game buatan FromSoftware sebelumnya misalnya seri Souls & Bloodborne yang adalah game RPG, Sekiro: Shadows Die Twice mempunyai elemen RPG yang sangat minim.
Meskipun pengembangannya dipimpin sang orang yang sama, Hidetaka Miyazaki, kustomisasi karakter di game ini hanya terbatas pada Skill Tree yang sanggup kalian akses.
Terlebih lagi, Sekiro: Shadows Die Twice tidak mempunyai fitur Character Creation tidak sinkron menggunakan seri Souls mempunyai fitur Character Creation yg sangat lengkap.
Jika dibandingkan menggunakan game The Outer Worlds yg dinominasikan untuk penghargaan yang sama, nggak bisa dipungkiri jika Sekiro: Shadows Die Twice itu mengecewakan, geng.
dua. Tidak Adanya Fitur Multiplayer

Selain dengan mode player versus player (PvP) biasa, seri Souls menurut FromSoftware dikenal karena mempunyai beberapa fitur multiplayer yang sangat unik.
Sebagai contoh, pemain bisa meninggalkan pesan kepada pemain lain untuk memperingatkan pemain lain akan adanya keberadaan musuh atau malah buat menipu pemain lain.
Sayangnya, meskipun mempunyai banyak kemiripan dengan seri Souls, Sekiro: Shadows Die Twice tidak mempunyai fitur multiplayer sama sekali, geng.
Fakta ini sangat mengecewakan karena game Death Stranding yg dinominasikan buat penghargaan yang sama memiliki fitur multiplayer yg sangat unik.
Padahal, gameplay yg ada di game ini mampu dibilang sangat cocok buat PvP karena sangat bergantung dalam keahlian pemain, geng.
3. Gameplay yang Dikhususkan Untuk Masokis

Dari seri Souls & game mecha Armored Core, developer FromSoftware memang telah terkenal menggunakan tingkat kesulitan & kerumitan game mereka.
Tapi sepertinya mereka kelewat khilaf dalam membuat Sekiro: Shadows Die Twice lantaran poly banget kritik dari publik yang mengeluhkan game ini terlalu sulit.
Jadi bersiaplah buat meninggal berulang kali buat melewati stage yg sama pada game ini, geng.
Selang beberapa hari setelah game ini dirilis, pemain sampai menciptakan mod yg menciptakan Sekiro: Shadows Die Twice lebih gampang menggunakan membuat karakter Wolf bergerak lebih cepat.
Bagi Jaka, video game itu seharusnya mengikuti filosofi gampang dipelajari, sulit buat dikuasai dan Jaka menduga game ini gagal pada mengikuti filosofi tersebut.
4. Kurangnya Inovasi dari Seri Souls dan Bloodborne

Banyak yg bilang bahwa pada dasarnya, Sekiro: Shadows Die Twice adalah versi lebih susah menurut seri Souls dan Bloodborne yang memakai latar Jepang abad 16.
Memang game ini memiliki tambahan beberapa fitur seperti fokus pada stealth dan elemen parkour yg sesuai menggunakan tema ninja, namun itu masih kurang cukup, geng.
Malah, mampu dibilang kalau Sekiro: Shadows Die Twice mengalami kemunduran karena menghilangnya elemen RPG yg sebelumnya ada pada seri Souls.
Jaka akui, menciptakan game yg memiliki inovasi yang unik itu sulit, namun Hideo Kojima berhasil melakukan hal ini di game Death Stranding yg penuh dengan ide gila khas Kojima.
lima. Kurangnya Variasi Gameplay & Replay Value

Berbeda dengan seri Souls yg mempunyai beberapa jenis senjata & elemen magic, Sekiro: Shadows Die Twice hanya terbatas pada satu jenis senjata saja dan nggak terdapat magic sama sekali.
Selain itu, seri Souls mempunyai penceritaan yang jauh lebih tak berbentuk pada mana kalian dapat memunculkan perubahan dalam game tanpa kalian sadari, geng.
Hal ini nggak sanggup ditemukan pada game ini yg membuat Sekiro: Shadows Die Twice masuk ke kategori game cukup sekali tamat.
Mungkin banyak dari kalian yg nggak akan menganggap hal ini sebagai perkara tapi mengingat harga game yg sekarang mahal, Jaka lebih memilih game yg punya nilai lebih.
Sampai waktu ini, FromSoftware jua nggak mempunyai planning untuk memperluas game ini dengan downloadable content (DLC) yg bagi Jaka adalah nilai minus.
Akhir Kata
Itulah, geng, 5 alasan kenapa Sekiro nggak layak menang Game of the Year berdasarkan Jaka. Bukannya Jaka menganggap bila game ini jelek akan tetapi masih belum masuk kategori Game of the Year.
Menurut Jaka, meskipun Death Stranding menerima respon yg bervariasi, game ini memberikan pengalaman yang lebih komplit dibandingkan Sekiro: Shadows Die Twice, geng.
Bagaimana pendapat kalian tentang game ini? Apa menurut kalian pantas memenangkan penghargaan Game of the Year? Langsung share pada kolom komentar ya!
Comments
Post a Comment